| Jamilah (Kader KAMMI Untirta) |
Kemerdekaan adalah suatu kemenangan dan suatu impian yang diinginkan oleh setiap
orang ataupun umat. Baik itu merdeka dalam belajar maupun merdeka dalam kehidupan. 76
tahun yang lalu, bapak proklamasi kita sudah memproklamirkan kemerdekaan. Tapi apakah
ketika pembacaan proklamasi itu kita sudah benar-benar merdeka? Apa kita sudah terbebas
dari macan-macam penjajahan? Sejatinya kita tidak benar-benar merdeka. Dimulai dari tahun
ke-2 setelah merdeka, indonesia menghadapi agresi militer yang dilakukan Belanda. Mereka
ingin kembali menjajah negara yang katanya sudah merdeka ini.
Pada masa orde baru, kemerdekaan dalam mengemuakakan pendapat pun sudah
dirampas oleh rezim - rezim pada masa itu. Tidak adanya kebebasan pers dalam
menyampaikan berita, sehingga banyak koran dan majalah yang dibredel. Selain itu banyak
sekali kritik yang dibungkam sehingga warga memiliki ketakutan tersendiri dalam
menyampaikan kritik-nya. Apakah itu semua dapat dinamakan dengan merdeka? Bukankah
mendapatkan kebebasan dalam berkritik juga termasuk merdeka?
Tahun 1998 banyak sekali keprihatinan terhadap krisis kepercayaan pada
kepemimpinannya sendiri. Atas dasar tersebut, para pemimpin aktivis dakwah berkumpul
bersama di Universitas Muhamadiyah Malang (UMM). Mereka membuat suatu organisasi
yang dijadikan sebagai wadah bagi setiap mahasiswa untuk membangkitkan semangat
mahasiswa dan sebagai tempat pembentukan masyarakat yang islami. Organisasi tersebut
bernama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).
Pada tragedi 12 mei 1998, organisasi yang baru terbentuk ini (KAMMI) ikut terlibat
dalam melakukan demonstrasi di depan gedung DPR. Mereka ingin memerdeka-kan kembali
indonesia dari tangan-tangan pemerintah yang tak bertanggung jawab, pemerintah yang
memikirikan diri-nya sendiri sehingga menjatuhkan banyak sekali konflik dan korban pada
masa pemerintahannya. Beserta organisasi yang lainnya, KAMMI berhasil melengserkan
pemerintahan tersebut, dan pada saat itulah era reformasi baru dimulai.
Tahun ke-20 pada Abad ke-20, rakyat Indonesia kembali dihancurkan dengan adanya
virus varian baru, yaitu Virus Covid-19. Namun, bukan hanya Indonesia saja yang dilanda
virus covid-19 tersebut. Akan tetapi, hampir semua negara tersentuh oleh virus tersebut.
Mulai dari negara-negara maju hingga negara-negara berkembang. Semua tersentuh dengan
virus tersebut. Pandemi ini dimulai, dimana hampir semua manusia mengalami permasalahan
hidup yang bertubi-tubi, baik kehilangan orang-orang terdekat, hingga kehilangan mata
pencaharian. Banyak anak kecil menjadi yatim piatu karena orang tua-nya meninggal karena
menjadi korban keganasan virus covid-19.
Virus covid-19 ini tidak dapat terkendali, sehingga banyak negara-negara yang
membatasi aktivitas warga-nya. Lockdown dan PPKM pun dilakukan sebagai wujud
pengendalian virus. Dan nyatanya pengendalian virus ini berakibat fatal pada kehidupan
masyarakat. Banyak sekali usaha yang gulung tikar, mereka mengibarkan bendera putih dan
mereka mengalami kerugian. Retail-retail besar pun menutup usaha-nya, begitu pula retail
kecil. Virus ini akan terkendali apabila semua masyarakat gotong royong dalam menangani
virus tersebut. Dimulai dengan memakai masker secara double, menjaga jarak minimal satu
meter, mengendalikan diri supaya untuk tidak keluar rumah apabila tidak ada keperluan yang
sangat mendesak. Namun, apabila kita keluar rumah usahakanlah mematuhi protokol
kesehatan yang benar, sehingga kita tidak akan mudah terserang oleh virus tersebut.
Meningkatkan imun tubuh adalah salah satu kunci untuk tidak mudah terjangkit virus
covid-19 ini. Dengan rajin berolahraga, memakan - makanan yang sehat, dan berjemur.
Apabila virus tersebut masuk ke dalam tubuh kita namun imun kita sangat kuat, maka virus
tersebut sangat mudah dilemahkan oleh tubuh kita. Sehingga, tidak akan berakibat fatal pada
diri kita.
Ketika adanya PPKM apabila diri kita merasa lebih beruntung dari pada orang yang
mengalami kesulitan maka kita lebih baik membantu sesama. Karena apabila kita hanya
mengandalkan pemerintah saja, mungkin kita akan bisa mati kelaparan. Sudah banyak sekali
bantuan pemerintah yang kurang tepat sasaran. Maka dari itu mulailah dengan membantu
tetangga kita yang mengalami kesulitan ekonomi. Dengan saling membantu, mematuhi
protokol kesehatan sekaligus menjaga imunitas tubuh maka kita akan menang dalam
melawan pandemi ini. Dan pandemi akan segera berakhir.
Pandemi ini bukan hanya berdampak pada sektor ekonomi, akan tetapi sektor
pendidikan mengalami dampak yang sangat buruk. Tidak adanya pembelajaran tatap muka,
semuanya dilakukan secara daring. Tidak sedikit orang yang merasa belum merdeka dalam
hal menimba ilmu. Belum merdeka-nya dikarenakan banyak sekali orang yang mengalami
berbagai kendala. Dimulai dari yang tidak memiliki Perangkat untuk belajar, signal yang
tidak memadai dan sulitnya dalam membeli paket data. Kendala tersebut banyak terasa bagi
orang-orang kelas menengah ke bawah.
Salah satu dampak dari pembelajran secara daring yang sangat dirasakan oleh saya
sendiri sebagai mahasiswa yaitu saya merasa lebih malas dibandingkan denga pembelajaran
tatap muka. Apabila biasanya setelah pembelajaran selesai maka saya akan membaca ulang
kembali materi yang sudah diajarkan. Tapi ketika pembelajaran dilakukan secara daring, saya
akan lebih tertarik untuk langsung membuka handphone saya, karena saya merasa khawatir
tertinggal informasi jika sedang tidak membuka handphone. Saya merasa diri saya sedang
dijajah oleh teknologi. Jika dulu bangsa Indonesia dijajah dengan nyata, maka sekarang
Indonesia dijajah melalui dunia maya melalui konten yang tidak bermanfaat. Untuk
mengurangi penggunaan handphone yang kurang bermanfaat maka saya mengikuti satu
organisasi kampus yang bernama KAMMI. Disini saya merasa lebih merdeka dan
menjadikan waktu saya lebih bermanfaat.
Organisasi KAMMI ini mengajak semua anggota-nya untuk mengeluarkan seluruh
ide yang tertuang dalam diri setiap anggota-nya. Dibantu untuk menemukan passion-nya
dengan cara melakukan berbagai lomba, sehingga setiap anggota diberikan kebebasan dalam
memilihnya. Kami dimerdekakan dalam menyampaikan aspirasi. Menurut saya organisasi ini
sangat cocok untuk kaum muda yang ingin mencari jati diri yang disertai ilmu agama.
Pada momen kemerdekaan ke-76 ini, semoga semakin banyak mahasiswa yang mulai
ber-KAMMI dan yang sudah memulainya jangan sampai berhenti di tengah jalan. Mari
jadikanlah kemerdekaan pada masa pandemi ini sebagai dobrakan kita untuk bersatu, karena
jika tidak adanya persatuan mungkin Indonesia tidak merdeka. Maka dari itulah mari kita
bersatu untuk menjadikan Indonesia kembali pulih. Persatuan ini harus ada juga dalam
KAMMI, mari kita satukan gerakan kita untuk membantu masyarakat. Jangan sampai kita
membantu orang lain hanya ketika bulan Ramadhan saja.